Minggu, 06 Maret 2011

MEMAHAMI PROSES PENYEIMBANGAN DIRI

Sikap dan Prasangka
Sikap merupakan suatu aktifitas individu sebagai akibat dari pengalaman atau kejadian yang meyebabkan suatu tindakan. Sikap mempunyai beberapa ciri khas yaitu: mempunyai obyek tertentu, dan mengandung penilaian. Artinya bahwa sikap seseorang dapat menimbulkan gejala suka dan tidak suka bagi para individu dan lingkungan disekitarnya.
Ada tiga komponen yang secara bersama-sama membentuk sikap yang utuh (total attitude) yaitu:
a.   Kognitif (cognitive).
Berisi kepercayaan seseorang mengenai apa yang berlaku atau apa yang benar bagi obyek sikap. Sekali kepercayaan itu telah terbentuk maka ia akan menjadi dasar seseorang mengenai apa yang dapat diharapkan dari obyek tertentu.
b.   Afektif (affective)
Menyangkut masalah emosional  subyektif seseorang terhadap suatu obyek sikap. Secara umum komponen ini disamakan dengan perasaan yang dimiliki obyek tertentu.
c.   Konatif (conative)
Komponen konatif atau komponen perilaku dalam struktur sikap menunjukkan bagaimana perilaku atau kecenderungan berperilaku dengan yang ada dalam diri seseorang berkaitan dengan obyek sikap yang dihadapi.
Salah satu bentuk sikap adalah prasangka (prejudice). Prasangka adalah sikap yang negatif terhadap kelompok tertentu atau terhadap seseorang, semata-mata karena keanggotaannya dalam kelompok tertentu. Prasangka timbul karena penilaian yang tidak berdasar dan pengambilan sikap sebelum menilai dengan cermat, sehingga terjadi penyimpangan pandangan (bias) dari kenyataan yang sesungguhnya.
Walaupun demikian, ada sebagian pakar yang berpendapat bahwa prasangka tidak selalu salah dan irasional. Sebagian juga berdasarkan pada kenyataan. Selain itu, prasangka dapat juga positif (misalnya orang Belanda selalu tepat waktu, dan orang Bali jujur). Hanya saja prasangka yang bersifat positif tidak menimbulkan masalah dalam hubungan antar pribadi atau antar kelompok, sehingga tidak dibicarakan secara khusus atau bahkan dianggap tidak ada. Yang jelas, prasangka adalah problem psikologi sosial karena yang utama dari sikap ini adalah dampaknya pada hubungan antarpribadi atau antar kelompok.
Persepsi
Manusia sebagai makhluk sosial yang sekaligus juga makhluk individual, maka terdapat perbedaan antara individu yang satu dengan yang lainnya (Wolberg, 1967). Adanya perbedaan inilah yang antara lain menyebabkan mengapa seseorang menyenangi suatu obyek, sedangkan orang lain tidak senang bahkan membenci obyek tersebut. Hal ini sangat tergantung bagaimana individu menanggapi obyek tersebut dengan persepsinya. Pada kenyataannya sebagian besar sikap, tingkah laku dan penyesuaian ditentukan oleh persepsinya.
Persepsi pada hakikatnya adalah merupakan proses penilaian seseorang terhadap obyek tertentu. Menurut Young (1956) persepsi merupakan aktivitas mengindera, mengintegrasikan dan memberikan penilaian pada obyek-obyek fisik maupun obyek sosial, dan penginderaan tersebut tergantung pada stimulus fisik dan stimulus sosial yang ada di lingkungannya. Sensasi-sensasi dari lingkungan akan diolah bersama-sama dengan hal-hal yang telah dipelajari sebelumnya baik hal itu berupa harapan-harapan,nilai-nilai, sikap, ingatan dan lain-lain. Sedangkan menurut Wagito (1981) menyatakan bahwa persepsi merupakan proses psikologis dan hasil dari penginderaan serta proses terakhir dari kesadaran, sehingga membentuk proses berpikir.
Proses terbentuknya persepsi pada seseorang dapat dimulai dari diterimanya rangsangan baik rangsangan visual, audio, olfatorik, dan rangsang-rangsang yang lain. Rangsang itu kemudian ditanangkap oleh alat indra untuk kemudian dibentuk menjadi sebuah persepsi mengenai apa yang ditangkap oleh alat indra. Setelah menjadi persepsi, mulailah pada proses pengenalan. Dalam proses pengenalan inilah persepsi yang dibangun, mulai diteliti dan diidentifikasi lebih dalam. Pengenalan ini merupakan tindak lanjut untuk mendapatkan suatu kepastian dari persepsi yang dibangun. Pengenalan yang dilakukan dapat dengan penalaran dan perasaan. Penalaran merupakan pemikiran dari suatu persepsi secara rasional, penalaran ini menggunakan akal pikiran dan dasar-dasar yang rasional. Sedangkan perasaan menyebabkan suatu kedekatan dan pengertian tentang persepsi. Dengan perasaan inilah suatu persepsi atau obyek dapat dikenali dan ditelaah lebih mendalam. Setelah mengenali dan memahami rangsang yang mendasari persepsi, maka akan didapatkan suatu tanggapan dan konfirmasi dari apa yang telah menjadi persepsi selama ini.
Proses ini merupakan proses yang berkelanjutan untuk dapat mendapatkan suatu penjelasan, konfirmasi, dan hal yang sebenarnya mengenai prsepsi yang dibangun. Sebagai contoh seseorang melihat makanan di atas meja. Mata menangkap adanya rangsang makanan di atas meja. Setelah mata melihat maka terbentuklah persepsi bahwa makanan itu sangat enak. Untuk mendapatkan kepastian dari persepsi itu, maka dilakukan pengenalan dan pendekatan. Lidah merasakan, dan mulai mendapatkan suatu konfirmasi tentang persepsi yang dibangun. Setelah merasakan makanan itu terasa enak, maka telah mendapat kepastian, yang berarti bahwa ia telah berhasil membangun sebuah persepsi yang positif dan benar sesuai dengan kondisi yang ada.
Diri, Konsep Diri dan Penyesuaian Diri
Diri merupakan suatu organisasi dari aspek-aspek yang saling berkaitan, yang membentuk suatu struktur kepunyaan dengan segala sejalanya. Aspek yang terdapat dalam diri saling berkaitan dan saling melengkapi untuk dapat mengkondisikan diri itu sendiri. Aspak-aspek tersebut yaitu aspek fisik dan aspek psikis, dengan segala komponennya yaitu emosi, psikososial, mental, pola pikir, dan komponen yang lain. Diri merupakan sesuatu yang dapat dilihat melalui panca indra yaitu mata. Diri yang dapat dilihat inilah merupakan aspek fisik yang ada dalam diri.
Konsep diri adalah gambaran yang dimiliki oleh anak tentang dirinya, meliputi kondisi fisik, psikologis, sosial, dan emosional. Penyesuaian diri merupakan keefektifan individu dalam memenuhi kebutuhan dan beradaptasi dengan lingkungannya.
Konsep diri dibedakan menjadi dua, yaitu konsep diri positif dan konsep diri negatif. Konsep diri positif terbentuk bika anak selalu dihargai berdasarkan potensi aktual yang dimilikinya. Konsep diri negatif terbentuk bila lingkungan secara berlebihan selalu mengingatkan kelemahan maupun kekurangan yang dimiliki anak.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan konsep diri:
- kenali potensi anak
- memberiklan stimulasi kepada anak untuk mengetahui kemampuannya
- membantu anak dalam neyelesaikan tugas tanpa disertai kritikan yang tajam
- memberikan dukungan kepada anak
- mengamati lingkungan anak bersama teman sebayanya
Anak yang memiliki konsep diri yang baik dengan mudah dapat menyesuaikan diri tanpa mengalami hambatan. Rasa bahagia, mampu menerima dirinya, serta menunjukkan bagaimana sebaiknya bertingkah laku dalam pergaulan sehari-hari merupakan syarat agar anak memiliki penyesuain diri yang baik, selain mencegah terbentuknya mekanisme pertahanan diri yang dapat mengarahkan anak pada penyesuaian diri yang buruk.
Beberapa karakteristik yang dapat menggambarkan penyesuaian diri yang baik:
- dapat menerima tanggung jawab sesuai dengan usianya
- menikmati pengalamannya
- mampu memecahkan masalah dengan segera
- mampu membuat keputusan
- tetap pada pilihannyamerasa puas dengan kenyataan
- dapat menggunakan pikiran untuk bertindak, dan bukan untuk melarikan diri
- mampu belajar dari kegagalan
- mampu mengatur waktu
- mampu menyatakan ya/tidak pada saat yang tepat
- menunjukkan ekspresi emosi yang tepat
- menerima kenyataan bahwa hidup merupakan perjuangan yang tak ada habisnya
Suatu konsep diri akan terbentuk sesuai dengan apa yang diinginkan, sesuai apa yang akan menjadi tujuan. Pembentukan konsep diri inilah yang nantinya akan menuju penyesuaian diri yang akan mengarah kepada keseimbangan diri. Dengan keseimbangan diri inilah seseorang akan dapat menemukan kehidupan yang dapat menuntunnya menjadi insan yang dapat memberi manfaat bagi kehidupannya.
Untuk mencapai keseimbangan diri inilah diperlukan suatu proses yang dinamakan asimilasi,adaptasi, dan akomodasi.
Asimilasi adalah proses sosial yang timbul bila ada golongan- golongan manusia dengan latar belakangan kebudayaan yang berbeda-beda yang saling bergaul langsung secara intensif untuk waktu yang lama, sehingga kebudayaan-kebudayaan golongan-golongan tadi masing-masing berubah sifatnya yang khas, dan unsur-unsurnya masing-masing berubah menjadi unsur-unsur kebudayaan campuran.
Adaptasi adalah adalah kemampuan atau kecenderungan makhluk hidup dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan baru untuk dapat tetap hidup dengan baik. Adaptasi ini dignakan untuk dapat mempertahankan hidupnya dalam rangka mencapai keseimbangan diri tersebut.
Dengan asimilasi dan adaptasi inilah akan muncul akomodasi, yaitu keadaan yang sudah mengarah kepada keseimbangan diri.

Minggu, 19 September 2010

Saat Bingung Memilih Pasangan

Saat Bingung Memilih Pasangan    

Dalam memilih pasangan hidup, baik bagi laki-laki maupun perempuan keduanya memiliki hak untuk memilih yang paling tepat sebagai pasangannya. Hal itu dikenal dalam Islam yang namanya 'kufu' ( layak dan serasi ), dan seorang wali nikah berhak memilihkan jodoh untuk putrinya seseorang yang sekufu, meski makna kufu paling umum dikalangan para ulama adalah seagama. 

Namun makna-makna yang lain seperti kecocokan, juga merupakan makna yang tidak bisa dinafikan, dengan demikian PROSES MEMILIH ITU TERJADI PADA PIHAK LAKI-LAKI MAUPUN PEREMPUAN. Disisi lain bahwa memilih pasangan hidup dengan mempertimbangkan berbagai sisinya, asalkan pada pertimbangan-pertimbangan yang wajar serta Islami, merupakan keniscayaan hidup dan representasi kebebasan dari Allah yang Dia karuniakan kepada setiap manusia, termasuk dalam memilih suami atau istri. Aisyah Ra berkata, "Pernikahan hakikatnya adalah penghambaan, maka hendaknya dia melihat dimanakah kehormatannya akan diletakkan"

Rasulullah pun bersabda, "Barang siapa yang menjodohkan kehormatannya dengan orang yang fasik maka dia telah memutus rahimnya" (HR Ibnu Hibban). Nabi juga pernah memberikan pertimbangan kepada seorang sahabiyah yang datang kepadanya seraya minta pertimbangan atas dua orang yang akan melamarnya, lalu Nabi menjawab, "Adapun Muawiyah bin Abi sufyan dia sangat ringan tangan (alias gampang memukul), adapun yang lainnya adalah orang yang fakir tidak memiliki harta yang banyak." Lalu Nabi menikahkannya dengan Zaid bin Haritsah.

Dan untuk memantapkan pilihan, terutama dari berbagai alternatif sebaiknya melakukan shalat istikhorah baik di tengah malam maupun di awalnya, dan lakukan secara berkali-kali. Jika telah dilakukan berkali-kali maka KEMANTAPAN YANG ADA ITULAH YANG INSYA ALLAH MERUPAKAN PETUNJUK-NYA, DAN ITULAH YANG LEBIH DIIKUTI. Tetapi perlu diingat, bahwa informasi yang dominan pada diri seseorang sering yang lebih berpengaruh terhadap istikhorah, oleh karena itu perlu dilakukan berkali-kali. Dan untuk membedakan apakah itu keputusan yang dominan adalah selera semata atau dominasi istikharah agak sulit, kecuali dengan berkali-kali, sekalipun salah satu tanda bahwa itu adalah petunjuk dari Allah adalah dimudahkannya urusan tersebut, tetapi hal tersebut bukan satu-satunya alamat yang mutlak.

Juga apabila persoalan apakah diri kita jual mahal atau tidak tergantung pada niat dan representasinya, karena itu Rasulullah menegaskan, "Sesungguhnya segala pekerjaan membutuhkan niat dan pekerjaan seseorang sangat dipengaruhi oleh niat. Barang siapa yang niatnya kepada Allah maka dia (dalam representasinya) akan sesuai dengan Allah dan Rasulnya, dan barang siapa yang niatnya kepada dunia atau wanita maka (representasinya) akan sesuai apa yang diniatkan" (Muttafaq alaih). 

Untuk menghindarkan tuduhan itu maka buktikan dalam representasi kita sehari-hari, sebagai contoh bahwa tuduhan itu akan benar jika memang salah satu kebiasaan kita adalah chatting dengan teman-teman baru yang notabenenya lebih banyak para laki-laki untuk seorang perempuan, dan sebaliknya, berbeda misalnya kalau teman yang kita ajak chatting adalah para wanita atau dalam bahasa yang digunakan bersifat umum, tidak ada yang rahasia sehingga tidak khawatir kalau harus dibaca orang. Ini hanya sekelumit contoh yang barangkali kurang tepat untuk yang bingung memilih pasangannya. Tapi ada hal yang cukup penting untuk diketahui bahwa UNTUK MENGENAL SESEORANG TENTU TIDAK CUKUP DENGAN BERKOMUNIKASI SESAAT. 

Pernah suatu hari Sahabat Umar bin al-Khattab mendengar seseorang memuji orang lain hingga Umar agak merasa keheranan lalu Umar bertanya, "Apakah kamu pernah bepergian dengannya?" Jawab orang tadi, "Belum." "Apakah kamu pernah bertransaksi dengannya?" Jawab orang tadi, "Belum." "Apakah kamu pernah bertetangga dengannya?" Jawab orang tadi, "Belum." "Apakah kamu pernah melihatnya dia melakukan shalat?" Jawab orang tersebut, "Ya, aku melihat dia rajin shalat, menunaikannya sesuai dengan waktunya." Lalu kata Umar, "Kalau begitu anda belum kenal dengan baik orang tersebut." Tetapi untuk mengenali tiga poin pertama dari empat poin tersebut bisa dilakukan dengan cara MENANYAKAN ORANG YANG PALING DEKAT DENGANNYA, DAN YANG DAPAT DIPERCAYA.
Adapun bila kita dihadapkan suatu pilihan lebih dari satu, tentu sewajarnya seorang akan memilih yang terbaik baginya, meskipun PILIHAN TERBAIK BAGINYA TIDAK SELALU IDENTIK DENGAN PILIHAN YANG TERBAIK BAGI UMUM, KARENA SESEORANG TENTU MEMILIKI PERTIMBANGAN YANG SANGAT KHUSUS YANG TIDAK DIMILIKI ORANG LAIN. 

Dari uraian diatas, kebingungan untuk memilih pasangan hidup dapat diatasi dengan beberapa tips berikut ini,
  1. pilihlah karena agamanya,
  2. kenali dengan cara menanyakan kepada orang yang paling dekat dengannya dan dapat kita percaya,
  3. letakkan niat pada tempat yang benar, karena segala perbuatan membutuhkan dan sangat dipengaruhi niat,
  4. sholat istikhorah untuk mohon petunjuk kepada Allah juga patut dilakukan,
  5. apabila semua ini telah dilakukan, maka pasrahkan diri kepada Allah SWT akan keputusan-Nya, jangan keluh kesah, karena itu tidak akan pernah menyelesaikan masalah,
  6. dan terakhir, jangan bosan untuk berbekal ilmu pernikahan :), karena berbekal ilmu adalah lebih baik daripada tidak membekali diri pada saat masuk ke dunia yang baru.
Masalah jodoh hanya Allah yang tahu, siapa pasangan kita sebenarnya, itulah rahasia Allah. Kita hanya diminta untuk berusaha, dan Allah-lah penentunya, terkadang Dia menentukan pilihan-Nya itu diluar dugaan dan rasio kita sebagai seorang manusia, tapi itulah ketentuan Allah. Jika memang harus menerima kenyataan di luar kehendak kita, maka ingatlah untuk tidak sembarangan memberikan cinta kepada siapapun, karena kadar cinta kita kepada Allah harus lebih tinggi dari itu semua. Yang terbaik menurut Allah, itulah yang paling utama.
Selamat berjuang akhi, selamat berjuang ukhti..., mulailah dengan bismillah dan niat yang benar, insya Allah, ridho-Nya akan selalu menghampiri, dan semoga Allah selalu memudahkan urusan antum.
Wallahu alam bi showab,

=====
Author: Abu Aufa
Maraji': Konsultasi Ustadz Bukhori Yusuf, Lc, MA dan Ustadz M. Ihsan Tandjung, Lc
Laboratory Department of Control Engineering and Science
Faculty of Computer Science and Systems Engineering
Kyushu Institute of Technology-Japan

Selasa, 17 Agustus 2010

WISATA RIAU PEKANBARU

Wisata Belanja Pekanbaru

Pasar Bawah adalah Wisata Belanja Kota Pekanbaru. Tak lengkap rasanya kalau berkunjung ke Pekanbaru kalau tak singgah atau berbelanja di Pasar Bawah Pekanbaru. Orang-orang dari luar Pekanbaru selalu menjadikan pasar bawah sebagai salah satu tempat yang harus dikunjungi jika mampir ke pekanbaru.

Pasar Bawah Pekanbaru termasuk pasar yang tertua di kota Pekanbaru, jadi Pasar bawah Pekanbaru adalah pasar tradisional. Pasar Bawah Pekanbaru terletak di pinggir Sungai Siak dan dekat dengan Pelabuhan, maka di pasar bawah ini mudah untuk mendapatkan barang-barang dari luar negeri dengan harga miring.
Dulu masuknya barang-barang ini belum terlalu dilarang. Pasar Bawah menjadi tempat favorit untuk berburu barang-barang elektronika dari luar negeri.
Tapi tentunya bukan cuma barang elektronik saja, aneka pernak-pernik rumah tangga seperti guci dan patung-patung juga tersedia dengan aneka pilihan.
Tapi seiring waktu berjalan, peraturan pemerintah pun semakin ketat. Barang-barang yang dulunya mudah masuk, sekarang tidak bisa lagi.
Pemerintah kota pekanbaru tidak mau pasar yang sudah terkenal itu menjadi mati. Maka kemudian pemko membangun sebuah pasar yang lebih bagus dan menjadikannya sebagai pasar wisata di kota pekanbaru.
Sekarang Pasar bawah Pekanbaru berubah nama menjadi Pasar Wisata, walau orang banyak lebih familiar dengan nama Pasar Bawah. Kita akui langkah yang diambil pemko pekanbaru sudah tepat. Sampai saat ini kita masih bisa berburu barang dari luar negeri dengan harga miring dengan cara tertentu (makanya pandai-pandai, hehehe).

Sekarang yang perlu diperhatikan dari pasar wisata ini ialah tentang keberadaannya. kalo bisa barang-barang yang di jual disana seharusnya diusahakan yang mempunyai ciri khas tertentu dan tidak ditemukan di pasar lainnya di kota pekanbaru.
Jangan sampai ke'ekslusifan' pasar bawah ini akan hilang di telan jaman seiring kehadiran mal dan plaza di kota pekanbaru. Ayo pemerintah daerah supaya mengatur para pedagang disana dan membantu menemukan item-item produk khas pekanbaru dan riau umumnya. Semua pihak dapat terlibat sehingga pasar wisata ini tetap menjadi kebanggaan masyarakat pekanbaru yang dapat kita perkenalkan keluar daerah.

Sabtu, 31 Juli 2010

Tiada Manusia Yang Sempurna
Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan makhluk hidup dengan berpasang-pasangan. Allah jua yang menciptakan rasa saling tertarik kepada lawan jenis dan saling membutuhkan sehingga dengan itu dapat saling mengasihi dan mencintai untuk mendapatkan ketenangan dan kecintaan disamping melahirkan keturunan dalam kehidupannya. Untuk itulah Islam memerintahkan umatnya untuk melangsungkan pernikahan apabila telah memenuhi syarat yang telah ditetapkan.
Bila berbicara masalah pernikahan maka tidak terlepas dari individu-individu yang akan melaksanakannya. Sebagai manusia yang normal, adalah hal yang wajar jika mempunyai kriteria yang ideal terhadap calon pasangan hidup yang diinginkan. Misalnya bagi laki-laki yang normal akan menginginkan calon istri wanita yang berparas ayu lagi cantik, dari keluarga kaya, berotak pintar, keturunan orang baik-baik, berakhlak mulia, pandai berbaul, serta bisa membantu mencari nafkah, dan sebagainya. Begitu juga wanita ingin punya suami yang ganteng, kaya, sabar, pinter, bertanggung jawab, setia, berakhlak memikat, dan sebagainya.
Akibat kriteria yang terlalu tinggi ini, tidak sedikit laki-laki atau perempuan yang lebih senang membujang, karena kesulitan untuk mencari pasangan hidup yang diinginkan. Orang-orang yang dikenalnya tidak sesuai dengan keinginan dan dambaannya, mereka lebih baik menunda nikah daripada melaksanakan sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam.
Sering kita lupa … bahwa tidak ada seorang pun yang diciptakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sempurna, sekalipun Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, akan tetapi beliau ma’sum karena terpelihara dari segala kesalahan (dapat teguran langsung dari Allah jika melakukan kesalahan).
Sedangkan manusia pada umumnya adalah makhluk yang mempunyai banyak kelemahan, di antaranya yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala sebut dalam Al Qur’an :
“Allah hendak memberikan keringanan kepadamu dan manusia dijadikan bersifat lemah.” (QS. An Nisa’ : 28)
Manusia diciptakan Allah suka keluh kesah. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :
“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir.” (QS. Al Ma’aarij : 19)
“Yaitu orang-orang yang kikir dan menyuruh orang lain berbuat kikir dan menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikan-Nya kepada mereka … .” (QS. An Nisa’ : 37)
Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menciptakan manusia dengan aneka ragam bentuk anggota badan, berbagai bentuk paras wajah, dan berbagai kepribadian yang kesemuanya ini tidak ada yang sama, sekalipun dua anak kembar dari satu sel, Subhanallah. Ada yang berparas ayu, manis, bahkan sangat cantik. Juga ada yang berwajah sedang, tidak ayu, bahkan jelek. Ada pula lelaki yang bertubuh besar tinggi, kekar, atau gadis yang anggun dan tinggi semampai. Ada yang anggota tubuhnya sempurna juga ada yang kurang bahkan tidak sempurna. Ada yang berkulit putih, kuning langsat, sawo matang, merah, bahkan hitam pekat. Semua ciptaan Allah dan Allah juga yang telah menyediakan pasangannya.
Memang ada manusia yang mencakup 4 kriteria yang disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam sebagai kelebihan dalam dirinya. Cantik/tampan, dari keluarga yang mampu dan kaya, keturunan orang baik-baik, dan baik Dien-nya (agamanya). Jika kita diberi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala pasangan yang seperti ini maka seharusnyalah kita banyak bersyukur kepada-Nya karena sangatlah jarang kita dapati di masa sekarang ini. Walaupun demikian tetap tidak akan terlepas daripada kekurangan yang ada pada sisi lain.
Dengan sifat kebijakan Allah Ta’ala dan keadilan-Nya, Dia tuntunkan pada hamba-Nya dalam mencari pasangan hidup. Ditekankan pada hal Dien-nya (agamanya). Seseorang tidaklah selalu memiliki paras cantik, tidak semua dilahirkan dari keturunan yang baik, dan tidaklah banyak yang dari keluarga kaya. Akan tetapi untuk menjadi orang yang baik agamanya, semua orang dapat memilikinya bagaimanapun keadaannya, tak terkecuali. Dimuliakannya seseorang dalam hal agamanya, karena faktor keimanan dalam hatinya.
Kesimpulannya tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Apakah tidak ada makhluk Allah yang sempurna? Jawabnya, ada. Makhluk Allah Subhanahu wa Ta’ala yang sempurna adalah yang ada di Surga, yaitu para bidadari dan wildan. Mereka diciptakan Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai pasangan untuk manusia di Surga. Bidadari tersebut berparas sangat cantik, montok-montok, selalu harum baunya, dan selalu dalam keadaan gadis. Tidak ada kekurangan padanya. Gambaran bidadari di Surga banyak kita dapati dalam Al Qur’an. Di antaranya :
“Mereka bertelekan di atas dipan-dipan berderetan dan Kami kawinkan mereka dengan bidadari-bidadari yang cantik bermata jeli.” (QS. Ath Thuur : 20)
“Dan (di dalam Surga itu) ada bidadari-bidadari yang bermata jeli. Laksana mutiara yang tersimpan baik.” (QS. Al Waqi’ah : 22-23)
“Di dalam Surga-Surga itu ada bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik.” (QS. Ar Rahman : 70)
Mereka disiapkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk para hamba-hamba-Nya yang beriman, yang selalu mengekang hawa nafsunya di dunia ini, dan menjalankan perintah-Nya. Wallahu A’lam Bis Shawab.

Minggu, 25 Juli 2010

LELAKI TUA DAN LAUT

Lelaki Tua dan Laut menceritakan perjuangan epik antara seorang nelayan tua yang berpengalaman dengan seekor ikan mersuji raksasa yang dikatakan merupakan tangkapan terbesar dalam hidupnya.

Novel itu bermula dengan menerangkan bahawa nelayan itu yang bernama Santiago (tetapi hanya dirujuk secara tidak langsung di luar dialog sebagai "si orang tua") telah tidak menangkap sebarang ikan selama 84 hari. Dia kelihatan bernasib malang dan Manolin, perantisnya yang muda, telah dilarang oleh ibu bapanya untuk belayar dengan orang tua itu dan diarahkan untuk menangkap ikan dengan nelayan-nelayan yang lebih berjaya. Masih bertaat setia kepada si orang tua itu, budak itu melawat teratak Santiago pada setiap malam untuk menarik peralatan menangkap ikan, memberi makanan kepadanya, serta untuk membincangkan besbol Amerika — khususnya tentang Joe DiMaggio, pemain pujaan Santiago. Santiago memberitahu Manolin bahawa pada hari berikut, dia akan pergi jauh ke Teluk untuk menangkap ikan dan yakin bahawa nasib malangnya akan berakhir.

Oleh itu pada hari ke-85, Santiago pergi seorang jauh ke Teluk dengan sampannya. Dia menurunkan tali kail dan menjelang tengah hari pada hari pertama, seekor ikan besar yang dia yakin adalah seekor ikan mersuji memakan umpannya. Tidak berupaya menarik ikan mersuji yang besar itu, Santiago mendapati bahawa ikan itu sebaliknya menarik sampannya. Dua hari dan dua malam berlalu dengan orang tua itu menahan tegangan tali kail dengan badannya. Walaupun dia dicederakan oleh perjuangan dan dalam keadaan sakit, Santiago mengungkapkan penghargaan yang penuh belas kasihan kepada lawannya, dan sering merujuk kepada ikan itu sebagai adik lelakinya.

Pada hari ketiga pengalaman pahit itu, ikan mersuji itu mula mengelilingi sampannya dan menandakan keletihannya kepada si orang tua itu. Santiago yang kini amat letih dan hampir dalam keadaan racauan, mencari kekuatan untuk menempuling ikan mersuji itu dan membunuh ikan itu ketika ikan itu menerpa keluar daripada air.

Santiago mengikat ikan mersuji itu pada sampan dan semasa menuju balik ke rumah, dia berfikir tentang harga tinggi yang akan diterimanya di dalam pasar, dan berapa banyak orang yang dapat diberikan makanan. Orang tua itu memutuskan bahawa disebabkan oleh kemuliaan ikan itu yang agung, tiada sesiapa yang berlayak memakan ikan itu.

Semasa Santiago meneruskan perjalanannya balik ke pantai, ikan-ikan yu tertarik kepada jejak darah yang ditinggalkan oleh ikan mersuji di dalam air. Yang pertama ialah seekor yu mako yang dibunuh oleh Santiago dengan tempulingnya, tetapi senjata itu hilang dalam proses pembunuhan itu. Santiago mencipta tempuling yang baru dengan mengikat pisau pada hujung dayungnya untuk menghalau barisan ikan yu yang berikut; pada keseluruhannya, tujuh ekor ikan yu dibunuh. Tetapi menjelang malam, ikan-ikan yu telah makan seluruh ikan mersuji dan hanya meninggalkan rangka. Orang tua itu mengecam diri kerana mengorbankan ikan mersuji itu. Apabila akhirnya tiba di pantai sebelum waktu subur, dia berjalan balik ke teratak dengan susah payah semasa memikul tiang sampan pada bahunya. Ketika tiba di rumah, dia rebah ke katil dan tidur dengan lena.

Tidak tahu tentang perjalanan orang tua itu, sekumpulan nelayan berkumpul pada hari keesokannya di sekeliling sampan yang rangka ikan masih diikat padanya. Pelancong-pelancong di kedai kopi yang berhampiran salah menganggap ikan itu sebagai ikan yu. Manolin yang berasa risau tentang usaha orang tua itu menangis ketika mendapati bahawa orang tua itu sedang tidur dengan selamat. Budak itu membawa surat khabar dan kopi kepadanya. Apabila orang tua itu bangun daripada tidurnya, mereka berjanji akan menangkap ikan bersama-sama semula lagi. Ketika Santiago tidur semula, dia bermimpi tentang singa-singa di pantai Afrika.

..::Blog Guruku::..: Perangkat Pembelajaran

..::Blog Guruku::..: Perangkat Pembelajaran

Sabtu, 17 Juli 2010

KESALAHAN ORANG TUA DALAM MENDIDIK ANAK

Sering secara tidak disadari, beberapa orang tua melakukan kesalahan dalam mendidik anak mereka. Apa yang akan terjadi jika anak dibesarkan dalam kondisi yang dipenuhi dengan kekerasan? Tentu, ia akan mengadopsi cara-cara yang sering ia lihat ke dalam kehidupannya kelak. Meski tak selalu, lingkungan memang sangat berpengaruh terhadap kehidupan anak selanjutnya, termasuk bagaimana orang tua mendidik mereka.

Anak yang dibesarkan dalam situasi keluarga yang nyaman tentu berbeda dengan anak yang selalu diberi hukuman fisik oleh orang tuanya. Sayangnya, tak sedikit orang tua yang tidak tahu bagaimana cara memberikan lingkungan yang baik bagi pertumbuhan optimal anak. Akibatnya, anak pun tumbuh tidak sebagaimana yang diharapkan.


Nah, berikut ini adalah 10 hal yang harus dihindari dalam mendidik anak:

1. Terlalu lemah
Misalnya, selalu memenuhi semua permintaan anak. Anak tidak diajar untuk mengenal hak dan kewajiban. Akibatnya, anak menjadi terlalu penuntut, impulsif (gampang melakukan tindakan tanpa perhitungan), egois, dan tidak memperhatikan kepentingan orang lain.

2. Terlalu menekan
Misalnya, orang tua terlalu mengatur dan mengarahkan anak, tanpa memperhatikan hak anak untuk menentukan keinginannya sendiri, atau untuk mengembangkan minat dan kegiatan yang ia inginkan. Akibatnya, anak akan menjadi lamban, selalu bekerja sesuai perintah, tidak memiliki pendirian, dan suka melawan.

3. Perfeksionis
Orang tua menuntut anak untuk menunjukkan kematangan sikap atau target tertentu yang umumnya melebihi kemampuan yang wajarnya dimiliki anak. Akibatnya, anak akan terobsesi untuk meraih prestasi yang diharapkan orang tuanya. Ia juga akan menjadi terlalu keras dan kritis terhadap dirinya sendiri.

4. Tidak memberi perhatian
Orang tua hanya menyediakan sedikit waktu untuk memperhatikan setiap perkembangan anak, atau membantu anak menempuh tahap demi tahap perkembangannya. Akibatnya, anak tak mampu membina hubungan dengan lingkungannya dan akan tumbuh menjadi anak yang impulsif.

5. Terlalu cemas akan kesehatannya
Orang tua terlalu berlebihan mencemaskan kondisi fisik anak. Padahal, secara obyektif, anak sehat. Sakit sedikit saja, orang tua cemasnya minta ampun. Akibatnya, anak akan mudah merasa tak sehat dan ikut merasakan kecemasan yang sama. Enggan bermain, takut jatuh, dan sebagainya.

6. Terlalu memanjakan
Misalnya, terus-menerus menghujani anak dengan barang-barang mahal atau memberikan pelayanan istimewa, tanpa mempertimbangkan apa yang sesungguhnya dibutuhkan anak. Akibatnya, anak bisa menjadi anak yang gampang bosan, kurang inisiatif, dan tak memiliki daya juang.

7. Tidak pernah memberi kepercayaan
Orang tua selalu meramalkan kesalahan yang belum tentu dilakukan anak. Orang tua juga selalu mengkritik anak, bahkan untuk hal-hal yang seharusnya tak perlu kritikan. "Kamu, sih, nanti kalau jatuh, bagaimana?" Akibatnya, anak akan menjadi seorang yang pesimis, rendah diri, dan cenderung mengembangkan hal-hal yang selalu dilarang orang tua.

8. Menolak kehadiran anak
Misalnya, jenis kelamin anak tak sesuai dengan harapan orang tua, sehingga orang tua cenderung menolak menjadikan anak sebagai bagian dari keluarga. Akibatnya, semua tindakan yang dilakukan orang tua selalu merugikan anak. Anak bisa rendah diri dan menunjukkan sikap bermusuhan terhadap orang tua.

9. Suka menghukum
Orang tua bersikap agresif terhadap kesalahan-kesalahan yang dilakukan anak, dan cenderung memilih memberikan hukuman fisik dengan alasan mengajarkan disiplin. Bisa-bisa anak akan menganggap kekerasan sebagai sesuatu yang wajar dilakukan dan akan melakukan hal yang sama terhadap keluarganya kelak.

10. Suka menggoda
Orang tua cenderung melecehkan keberadaan anak dengan sering mengolok-olok dan mengungkapkan kekurangan anak di depan orang banyak. Akibatnya, anak akan merasa tidak dihargai dan rendah diri.

http://unhicommunity.blogspot.com/2009/09/10-kesalahan-dalam-mendidik-anak.html