Sabtu, 24 April 2010

Perubahan Perilaku, Kunci Sukses Sebuah Sales Training

Perubahan Perilaku, Kunci Sukses Sebuah Sales Training

Perusahaan Anda melakukan investasi besar-besaran untuk memberikan training sales pada staff. Namun, hasilnya tidak kunjung berbuah juga. Hal ini tidak hanya terjadi pada Anda, melainkan juga pada perusahaan lainnya di seluruh dunia. Lalu bagaimana akar masalahnya?

Pada kebanyakan seminar sales, umumnya orang hanya dibekali sales skill. Setelah menghadiri seminar, orang diharap untuk mendengar, mengingat, kemudian mempraktekkannya. Namun beberapa saat setelah training, orang kemudian melupakan apa yang mereka dengar. Hal ini disebabkan karena dalam seminat tersebut, tidak dibentuk sebuah ‘habit’ yang baru. Sehingga bagaimana supaya proses training dapat memicu angka penjualan?

Sebuah sales training seharusnya didesain untuk membangun perilaku customer-focused pada salesperson. Jika tidak demikian, maka mereka tidak akan optimal dalam menjual. Setelah training, seharusnya salesperson dapat memahami bagaimana penjualan yang customer-focused. Selain itu, training tersebut juga harus dapat meyakinkan mereka bahwa perilaku customer focused adalah kunci keberhasilan. Skill ini harus terus dipraktekkan dan diasah berulang kali hingga customer-focused selling skill menjadi sebuah perilaku yang mengakar.

Lalu bagaimana menjadikan skill ini sebagai perilaku yang mengakar? Berikut ini adalah langkah-langkahnya:

Pertama-tama, ajarkan kepada salesperson mengenai customer focused selling skill. Skill ini menuntut mereka berfokus bukan pada produk, melainkan kebutuhan pelanggan. Biarkan mereka mempraktekkan skill ini dalam praktek penjualan mereka sehari-hari.

Secara mingguan, minta mereka untuk melaporkan kepada apa mengenai praktek penjualan yang mereka jalankan, dan bagaimana hasilnya. Praktek yang sukses menjalankan customer focused selling skill tentunya harus memperoleh reward tersendiri. Sehingga, proses ini akan terus berulang, dan customer-focused akan menjadi habit tersendiri bagi mereka. Bukan semata-mata seminar sales skill dan seminggu kemudian langsung lupa.

Pada intinya, sebuah training harus membangun sebuah perubahan perilaku jika ingin sukses. Tanpa adanya perubahan perilaku, maka training hanya sekedar membuang-buang dana saja. Jika customer focused selling skill sudah mengakar atau menjadi habit pada seorang salesperson, maka kesuksesan penjualan akan menjadi milik Anda.

Minggu, 11 April 2010

JENDELA KEHIDUPAN

Bicara masalah perempuan, seperti yang Rasul katakan, jika tak hati-hati, sama dengan mengurai benang kusut yang memiliki banyak simpul. Sampai-sampai Rasul Saw pernah bersabda bahwa babus syaithan dan babun nisaa merupakan dua topik yang tak pemah habis dibahas, dikaji dan diseminarkan.
Namun ini bukan berarti bahwa dua bab ini tak dapat dikaji tuntas. Tentu bisa. Islam telah memberikan demikian banyak petunjuk, dimanakah orbit perempuan dalam sistem raya Islam ini. Menurut tuntunan Rasul, Islam sebagai agama yang amat memperhatikan masalah keseimbangan, menegaskan bahwa perempuan adalah pendamping pria dalam upaya menegakkan kalimat Allah. Jika hendak diumpamakan wanita dan pria laksana dua bintang yang berada pada orbit yang berbeda, namun memiliki peran yang sama menentukan bagi kesimbangan jagat ini. Sama seperti yang Allah Ta?ala firmankan : (QS Yasin : 40)
Tinggal memang, perkembangan zaman menghadirkan masalah-masalah baru bagi muslimah. Hal-hal yang selama ini tak pernah ada dalam kamus kemuslimahan tiba-tiba muncul. Ide emansipasi dan ideologi feminisme masuk mengisi rongga otak banyak muslimah. Hasilnya berwujud berseliwerannya para perempuan memenuhi ruang perkantoran, pusat perbelanjaan, dan pabrik-pabrik. Sebagian menorehkan prestasi di bidang ilmu, sementara sekelompok lainnya asyik menekuni bidang politik bahkan militer.
Dan, banyak fakta menunjukkan bahwa prestasi yang dihasilkan kaum hawa ini tak beda jauh, sebagian bahkan melampaui apa yang diraih pria. Ide dan contoh nyata ini tentu memberikan inspirasi serta motivasi baru bagi sebagian muslimah untuk mengekor keberhasilan rekan sejenisnya di belahan bumi lain, mayoritas di barat. Arus ini bagaikan badai yang menerjang benteng pertahanan yang selama ini dibangun untuk melindung perempuan agar tetap ada dalam istananya.
Di sisi yang lain arus ini juga memunculkan pertanyaan pada sebagian muslimah ihwal gugatannya terhadap “pagar-pagar” yang selama ini membatasi ruang geraknya dalam beraktivitas. Khususnya pada peran yang dapat diemban seorang muslimah dalam gerak kebangkitan ummat yang tengah berlangsung ini.
Menggugat Mitos
Di antara masalah yang mungkin sering menggelegak dalam jiwa para muslimah namun takut untuk mengungkapkannya ke permukaan adalah banyaknya mitos yang berkembang memagari seorang muslimah.
Dr. Yusuf Qardhawi pernah melontarkan keheranannya saat ia melihat fenomena maraknya upaya menjauhkan para muslimah dan majelis ilmu. “Tahun 70-an, saya terus menghadiri muktamar tahunan Asiosasi Mahasiswa Islam Amerika dan Kanada selama beberapa tahun, dimana ikhwan dan muslimah hadir menyaksikan jalannya ceramah. Muslimah yang hadir disitu ikut mendengar komentar, pertanyaan, jawaban dan diskusi tentang masalah-masalah Islam yang besar, baik menyangkut fikrah, ilmiyah, sosial, pendidikan dan politik. Tapi tahun delapan puluhan, suasana menjadi berubah. Ketika saya menghadiri beberapa muktamar di Eropa dan Amerika, saya temukan pemisahan total dua jenis kelamin itu. Saya lihat para akhowat tidak dapat menghadiri sebagian besar dan ceramah-ceramah, diskusi dan seminar yang dikelola oleh laki-laki. Padahal forum itu begitu penting bagi wanita. Di antara muslimah ada yang mengadu pada saya tentang kebosanan mereka mengikuti ceramah-ceramah yang hanya seputar kewanitaan saja, seperti hak-hak, kewajiban dan kedudukan wanita dalam Islam.” (Prioritas Gerakan Islam, Dr. Yusuf Qardhawi, Buku Kesatu, hal. 98-99)
Itu baru satu kasus. Masih ada yang lain, seperti anggapan suara wanita itu aurat, bertanya melalui kertas, ketakutan menolak calon suami dan lain-lain. Dalam masalah yang khas dengan peran muslimah menuntut ilmu, mitos itu bisa tercium dari pandangan sinis terhadap mereka para muslimah yang aktif menekuni ilmu di bangku sekolah dan perguruan tinggi. Keengganan sebagian muslimah yang memiliki kesempatan dan kemampuan untuk melanjutkan pendidikan bertolak dari anggapan bahwa bekal seorang muslimah yang utama adalah berbakti pada suami dan menjadi ibu. Sementara kebingungan melanda sebagian muslimah yang sudah menyelesaikan atau tengah berjuang menyelesaikan pendidikannya kemana akan dimanfaatkan ilmunya itu nanti. Semuanya tersimpul menjadi satu mengikat dan membatasi peran muslimah dalam sumbangannya terhadap kebangunan Islam.
Akar Masalah
LaIu kenapa pemikiran nyeleneh atau mitos tentang muslimah itu muncul dan malah seolah disahkan dalam aktivitas keseharian? Ada beberapa penyebabnya.
Pertama, masalah keluasan pemahaman seseorang. Masalah kefahaman ini amat menentukan persepsi dan amal seseorang tentang suatu hal. Pemahaman yang luas, integral dan terpadu akan membuat seseorang arif dalam mengeluarkan fatwa atau pendapat.
Islam tak pernah memandang dan menilai muslimah sebagai masyarakat kelas dua dengan hak dan tanggung jawab yang lebih rendah dari kaum pria. Islam mewajibkan menuntut ilmu bagi wanita dan pria, nabi Muhammad saw mewasiatkan agar orang tua mengutamakan pendidikan anak perempuannya:
“Barangsiapa mempuanyai anak perempuan, kemudian mendidiknya, berbuat baik kepadanya, dan mengawinkannya, baginya syurga.” (HR Ihnu Hibban)
Panggung sejarah keagungan Islam jelas banyak melibatkan peran aktiv kaum muslimah di berbagai bidang.
Di sisi jihad dan tadhiyyah (pengorbanan) mereka kepada Islam, tercatat Summayyah lah sebagai muslimah pertama yang menyumbangkan nyawanya demi keimanan dan memperoleh syahadah.
Manusia pertama yang menyambut da’wah Islam sekaligus menopang banyak manuvernya juga dari kaum muslimah; Khadijah binti Khuwaiiid ra.
Selain itu banyak pula dikisahkan, para shahabiyyat ra yang turut membantu kaum muslimin dalam peperangan.
Di bidang pengetahuan juga tidak kalah. Para shahabiyat ra pernah meminta agar diadakan pertemuan khusus buat mereka dalam mempelajar ilmu, sebagaimana yang dilakukan Rasul kepada para shahabat. Kemudian Nabi memenuhi kehendak mere-ka dengan memberikan waktu khusus.
Aisyah Ummul mu’minin ra dikenal sebagai orang yang paling ahil tentang fiqih, kedokteran dan puisi. Karena kepandaiannya itu Rasulullah pernah berkata kepada para shahabat-nya: “Ambilah separuh agama kalian dan AI-Humairan ini, yakni sayyidatina Aisyah ra., Ummul mukminin”
Dalam ilmu hadits, lbnu Asakir menyebutkan lebih dan delapan puluh wanita ahli hadits. Aliyah binti Hasan, pemimpin Bani Syaiban, seorang yang cerdik lagi terhormat sering dikunjungi oleh Shaleh Al-Marwi dan tokoh-tokoh ulama fiqih Bashrah untuk dimintai pendapatnya tentang berbagai masalah.
Zainab binti Ummi Salamah, dilukiskan oleh lbnu Katsir salah seorang yang paling dalam ilmu agamanya di Madinah saat itu.
Selain itu, ada di antara para shahabat ra yang sering membacakan catatannya di hadapan seorang shahabiyyah yang bernama Ummu Sa’ad binti Rabi’. Mereka mohon dikoreksi bila terdapat kesalahan-kesalahan datam catatannya.
Ada Iagi yang bernama Ka’biyyah binti Sa’ad Al-Aslamiyyah, salah seorang dokter wanita. Beliau mendirikan tenda poliklinik yang bersebelahan dengan masjid Nabawi, memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat Islam. Atas jasa jihad dan sosialnya itu, Rasulullah memberinya hadiah sebuah anak panah di waktu perang Khaibar.
Rasul juga pernah menunjuk Asy-Syafa’ binti Abdullah untuk mengajarkan tulis-baca kepada kaum muslimin. Asy-Syafa’ pun digelar “guru wanita pertama dalam Islam”. Selanjutnya, masih sederet nama dan peristiwa iagi yang sejenis.
Uraian di atas, jelas menggambarkan bahwa Islam tak pernah mempersempit ruang gerak wanita menuntut ilmu dan menunaikan kewajiban mereka membangun peradaban masyarakat Islam. Mereka, para shahabiyyat mengerti kedudukan dan peranan yang mereka emban dalam menghasung pembangunan sebuah masyarakat Islam. Mereka selalu aktiv dalam proses belajar dan mengamalkan ilmu-nya untuk orang lain, mereka berlomba mencapai tingkat per-juangan yang maksimal untuk membangun masyarakatnya.
Kedua, seringkali mitos-mitos itu muncul bukan didasari nilai-nilai Islam. Mitos dan aturan yang merugikan umat sendiri itu seringkali datang dan luar Islam: adat, tradisi, dan pandangan masyarakat setempat hingga rekayasa musuh-musuh Islam.
Masyarakat pra Islam, baik zaman sebelum Rasul maupun zaman kini, kebanyakan memandang perempuan sebagal makhluq yang berderajat rendah. Umar bin Khattab ra. pernah berujar: “Pada zaman jahiliyah kami tak pernah memberikan hak apa-pun pada wanita. Sampai Allah Ta?ala yang Maha Tinggi menurunkan perintah yang penting pada mereka dan memberikan pada mereka bagian yang tepat.”
Aristoteles memandang wanita adalah ‘makhluk yang belum selesai penciptaanya’. Sementara dalam Rig weda tertulis: “Tidak boleh menjalin persahabatan dengan wanita. Pada kenyataannya, hati wanita adalah sarang srigala.” (Rig Weda, 10, 95, 15.)
Beberapa Pilar Peran Muslimah
Wanita muslimah bukanlah bilangan yang dapat diabaikan dan makhluq yang dapat disia-siakan. Rasulullah saw bersabda bahwa wanita adalah saudara kandung laki-laki. Islam memberikan peluang yang sama besar pada laki-laki mapun perempuan untuk mereguk sebanyak mungkin pahala yang Allah sediakan bagi mereka yang beramal.
Ada beherapa pilar yang dapat dijadikan sandaran bagi muslimah untuk berkiprah dalam lapangan ilmiyah di masyarakat:
Pertama, Pria dan wanita memiliki derajat hak dan tanggung jawab yang sama disisi Allah Ta’ala. Namun jangan berpikir bahwa persamaaan ini juga menuntut tugas yang sama. Sekali lagi, sebagaimana telah diungkap di atas, keduanya ada dalam orbit yang berbeda. Keduanya memiliki tugas dan peran yang berbeda-beda, namun saling melengkapi. Untuk itu, keduanya pun harus memiliki bekal yang cukup sehingga tugas yang diletakkan pada pundaknya dapat terlaksana.
Kedua, pria dan wanita diberi bekal fitrah dan potensi yang sama. Saat Allah Ta’ala menciptakan manusia, tak pernah dibedakan apakah ia perempuan atau laki-laki. Karena itu, peluang perempuan untuk berprestasi terbuka sama lebarnya dengan laki-laki. Tinggal sekali lagi, tentu keduanya berada pada orbit ma-sing-masing.
Maka tak heran jika Rasulullah saw memuji wanita Anshar yang giat bertanya: “Allah akan merahmati wanita Anshar, mereka tidak malu-malu lagi mempelajari agama.”
Ketiga, wanita islam haruslah wanita yang penuh dengan vitalitas dan kerja nyata. Rasulullah saw menganjurkan agar kaum wanita selalu berkarya, “Sebaik-baik canda seorang mukminah di rumahnya adalah bertenun.” (Asadul Ghabah, jilid 1 hal.241)
Qailah Al-Anmariyah, seorang sahabiyah yang juga pedagang, pernah bertanya pada Rasul: “Ya Rasulullah, saya ini seorang pedagang. Apabila saya mau menjual barang, saya tinggikan harganya di atas yang diinginkan, dan apabila saya membeli saya tawar ia di bawah yang ingin saya bayar. Maka Rasul menjawab, “Ya, Qailah! Janganlah kau berbuat begitu. kalau mau beli, tawarlah yang wajar sesuai yang kau inginkan. dikasih atau ditolak.”
Ustadz Umar Tilmisani menyatakan bahwa Islam tidak melarang seorang wanita menjadi dokter, guru sekolah, tokoh masyarakat, perawat, peneliti dalam berbagal bidang ilmu, penulis, penjahit serta profesi lain se-panjang itu tidak bertentangan dcngan kodrat kewanitaanya.
Keempat, hendaknya aktivitas dibidang keilmuwan itu tidak melupakan tugas utama seorang wanita sebagai penanggung-jawab masalah kerumah-tanggaan. Firman Allah Ta’ala: “Dan hendaklah kamu tetap di rumah-rumah kamu …” (QS al-Alizab: 33)
Jika keserasian ini terjaga, maka tak hanya ummat Islam yang heruntung karena mendapat tam-bahan tenaga dan partner baru dalam berjuang, namun cita-cita menegakkan kalimat Allah kian datang mendekat. Semoga Allah Ta’ala selalu menyertai langkah kita. Amiin. (btm3/ishlah)

Minggu, 04 April 2010

PERBAIKILAH KEPRIBADIAN ANDA, DAN ANDA AKAN SUKSES

Oleh: Tunggul Tranggono

Prestasi seseorang ditentukan oleh kepribadiannya. Bahkan disimpulkan juga bakat yang dibawa sejak lahir hanya berperan sebagai faktor imbuhan saja bagi prestasi seseorang. Kepribadian dan prestasi ibarat flight-attitude yang di-install pada cockpit pesawat terbang. Bila flight attitude menunjukkan kemiringan 45 derajat, maka berarti pesawat miring 45 derajat. Bila kepribadian seseorang tidak positif, maka prestasi yang bersangkutan tidak akan sukses, walau faktor pendukung kesuksesan yang lain dimilikinya. Oleh sebab itu apabila seseorang ingin sukses, tidak ada jalan lain kecuali menimba terus ilmu dan pengetahuan agar wawasannya luas, bekerja terus menerus agar memperoleh pengalaman dan mempertajam keterampilan, berpola pikir dan berpola tindak positif untuk makin menampilkan kepribadian yang positif. Tiga faktor ini yaitu "knowledge, skill and behaviour" oleh Dale Carnegie disebut sebagai faktor keberhasilan seseorang (The Triangle of Success).

Dalam pergerakannya, ada satu hal yang tidak pernah berubah, yaitu bahwa jaman akan menawarkan kepada kita berbagai kesempatan terus menerus. Tinggal terserahlah kepada kita akan menyambut kesempatan tersebut dan menangkap atau membiarkannya berlalu. Yang jelas kesempatan yang sama tidak akan datang lebih dari satu kali, hilang diambil oleh yang lain atau lenyap tertelan waktu. Siap atau tidak siap salah satu keberhasilannya tergantung penguasaan kita terhadap ilmu kita yang kita miliki. Sebab menangkap kesempatan harus berbekal ilmu pengetahuan. Semakin luas ilmu kita semakin cakap kita mengambil kesempatan. Hanya orang yang membekali dirinya dengan ilmu pengetahuan yang banyak mampu menangkap berbagai peluang dan kesempatan.
SKILL
Keterampilan pada akhirnya akan dicapai seseorang apabila mereka melakukannya dalam praktek. Penguasaan ilmu pengetahuan saja tidaklah cukup untuk bisa disebut sebagai terampil apalagi ahli. Dengan praktek seseorang akan menemui berbagai pengalaman yang sangat variatif, berbagai persoalan dan bagaimana menyelesaikan persoalan tersebut. Ini membuat penguasaan terhadap fungsi pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya semakin tajam. Berbekal ilmu pengetahuan ditambah pengalaman, seseorang akan mudah menemukan esensi dari ilmu pengetahuan tersebut, yang akan berpengaruh kepada keberhasilan dalam pengeterapannya. Solusi-solusi terhadap masalah bisa dipermudah sebab esensinya dikuasai. Untuk rakyatnya yang diharapkan bisa mandiri dan tidak tergantung kepada negara lain / kapitalis, Mahatma Gandhi menghimbau agar rakyatnya mempraktekkan ilmu pengetahuan yang sudah dimilikinya untuk melakukan produksi untuk memenuhi kebutuhan rakyatnya.. Beliau mengibaratkan betapa tinggi praktek itu dengan perumpamaan bahwa satu ons praktik nilainya sama dengan satu ton ilmu pengetahuan. Maksudnya adalah dengan praktik, seseorang akan mendapatkan banyak manfaat dan ilmu yang lebih detail dan mendalam, sebab betul-betul dirasakannya dan dipahaminya.

BEHAVIOUR
Dipengaruhi oleh karakter yang terbawa sejak lahir, serta lingkungan kehidupan sehari-hari, seseorang akan tampil dengan ciri khusus yang mengemuka sebagai behavior dalam bentuk pola pikir dan pola tindaknya. Tampilan ini secara umum disebut sebagai kepribadian atau personality yang dalam awal tulisan disebut mempengaruhi pencapaian prestasi seseorang dengan dominan. Ada yang beranggapan kepribadian adalah pembawaan yang merupakan keturunan dari orang tua, atau yang tak bisa dirobah. Seorang sarjana, James William, menyatakan bahwa kepribadian seseorang ibarat bawang merah, yang apabila dikupas kulitnya, akan diketemukan kulit yang lain, begitu berkali-kali. Artinya kepribadian sebagai potensi sesungguhnya sangat banyak dimiliki oleh seseorang. Namun tidak nampak. Yang nampak atau ditampilkan sekarang ini adalah sebagian saja dari kepribadian yang dimilikinya. Hakekat dari pengibaratan ini adalah bahwa kepribadian itu bisa dikembangkan. "Attitude is learned, not inherited." Bisa dipelajari, bukan bawaan keturunan.
SELF DEVELOPMENT
Dengan berbekal ilmu pengetahuan (Knowledge), keterampilan (Skill) dan kepribadian (attitude & behaviour) yang dimilikinya, seseorang akan berhasil dalam pekerjaannya dan berprestasi tinggi. Namun itu tentunya tidak cukup. Perjalanan zaman membuat pula "social environment" berkembang. Oleh sebab itu prestasi pun harus berkembang dari waktu ke waktu sehingga seseorang senantiasa dalam posisi "kini lebih baik". Ibarat perjalanan, prestasi berawal dengan pertanyaan untuk diri sendiri ; siapa saya, dimana saya, hendak kemana saya, bagaimana caranya agar sampai kesana.

SIAPA SAYA?
Alangkah sulitnya seseorang yang ingin berkembang tetapi tidak mengenal dirinya sendiri. Untuk itu jurnal kehidupan senantiasa harus diikuti, neraca kehidupan senantiasa harus dibuat. Dengan introspeksi, dengan retrospeksi. Seberapa luas ilmu pengetahuan kita miliki? Seberapa terampilkah kita bekerja? Sepositif apakah kepribadian kita? Pengenalan diri sendiri dan kesadaran akan kekuatan serta kelemahan sendiri merupakan modal utama seseorang untuk bisa melakukan pengembangan diri. Tidak pula bisa dianggap sepele adalah pengenalan seseorang dari atau oleh orang lain yang harus dimanfaatkan sebagai 'feed-back' bagi koreksi akan hal-hal yang tidak baik pada diri kita.

DIMANA SAYA?
Seseorang hidup di tengah-tengah masyarakat, tidak terlepas dari interaksi antar berbagai aspek kepentingan baik manusia yang memiliki kepribadian berbeda-beda., dengan teman sekerja, lembaga / perusahaan dimana kita bekerja, masyarakat, bahkan sistem kerja yang saling interaksi secara global. Seseorang selalu berada di tengah-tengah berbagai faktor yang mempengaruhi keberhasilannya. Oleh sebab itu dimana letak posisi seseorang dalam interaksi organisasi, apa statusnya, harus disadari sebagai awal pijak perjalanan prestasi yang panjang.

HENDAK KEMANA SAYA?
Tujuan hidup hendaklah jelas. Clear Goal in Life kata sebagian orang. Bekerja sebagai usaha mewujudkan tujuan hidup haruslah jelas juga.Buat apa kita bekerja? Puaskah kita dengan kondisi sekarang? Atau kita ingin berkembang? Kemana kita akan menuju? Menentukan tujuan dengan jelas merupakan motivasi yang akan menggerakkan kita. Seberapa kuat (strength) kita, apa saja kelemahan (weakness) kita. Apabila sudah kita ketahui, dinamika interaksi sosial banyak menawarkan peluang (opportunities). Bahwa kita bisa menggapai kesempatan, adalah tergantung kesiapan kita. Adakah itu? Di samping itu harus diwaspadai pula bahwa di dalam berbagai kesempatan, ada juga ancaman -ancaman (threats) yang bisa membuat tujuan kita gagal.

BAGAIMANA CARANYA?
Dibumbuhi oleh semangat (enthusiasm), seseorang harus mencapai prestasinya. Untuk itu dalam pelaksanaannya haruslah berbahasa prestasi, bermotif prestasi (achievement motive orieented). Pada diri seseorang, motif prestasi bisa dikembangkan. Kebiasaan mengetahui apa yang dilakukan, senantiasa ingin mencapai hal yang lebih baik dari waktu sebelumnya, membandingkan antara hasil dan resiko-resiko, akan membawa seseorang kepada peningkatan motif prestasi yang semakin tinggi. Akhirnya secara naluriah pada diri seseorang akan terbentuk jiwa yang selalu ingin berprestasi. Seiring perjalanan hidupnya, tampillah suatu sosok jati diri yang mencerminkan kepribadian yang positif,yang bisa filling-nya mempercepat pemilihan antara kegiatan yang berguna bagi prestasinya dengan yang tidak. Dan kata tanya yang tepat untuk ini adalah di dalam kita berkegiatan atau bekerja, selalu ada pertanyaan kepada diri sendiri kenapa tidak yang terbaik yang aku lakukan?

PRESTASI, TERMINAL DARI TUJUAN
Individu adalah bagian dari institusi. Apabiia individu-individu berkembang, berkembang pulalah institusi, demikian sebaliknya. Dan apabila institusi berkembang, celah dan kesempatan semakin banyak, yang bisa kita tangkap semakin banyak pula kemungkinannya. Secara umum, "performance" kita akan saling terkait dengan performance institusi dimana kita bekerja. Oleh sebab itu bagi yang memahami alur pemikiran ini tak ada pilihan kecuali mengejar prestasi dengan bekerja sebaik-baiknya, sebab jalan kearah pencapaian tujuan semakin terbuka.
Pada akhirnya seiring perjalanan umur, sampailah kita di terminal tujuan hidup kita, di puncak karir dan bolehlah kita menghela nafas panjang sambil berucap: "Alhamdulillah, aku menjadi sebaik-baik diriku. Alhamdulillah tidak sia-sia hidupku,".
 
Sumber: Majalah Human Capital

Minggu, 28 Maret 2010

minggu, 28 Maret 2010
Optimis Dalam Hidup dan Perjuangan


Sesuatu Yang Mustahil Terjadi, Atas Kehendak Allah Pasti Terwujud

Di antara masalah keimanan kita kepada Allah, adalah keyakinan akan kekuasaan Allah. Kita harus mantapkan dalam diri akan kekuasaan Allah. Bahwa di tanganNyalah semuanya, Allah Maha mengatur, Allah Maha berkendak, Allah memuliakan sesuatu, juga Allah menghinakan segala sesuatu, yang dikehendakiNya. Jika, Allah menghendaki sesuatu terjadi, maka itu pasti terjadi, hanya dengan mengatakan Kun (Jadilah).


Terutama dalam kondisi seperti saat ini, begitu banyak kejadian, berupa musibah yang menimpa kaum muslimin. Tahun ini saja, terjadi rentetan musibah, mulai dari banjir, tanah longsor, kecelakaan lalulintas, pembunuhan, serta berbagai wabah penyakit.

Ini semua harus dihadapi dengan kekuatan iman kepada Allah, keyakinan atas takdir Allah. Semoga saja kejadian-kejadian tersebut, semakin memperkokoh keimanan kita kepada Allah. Setidak-tidaknya, berbagai kejadian itu menjadi pelajaran bagi kita semua.

Pelajaran Dari Krisis Ekonomi AS dan Terpilihnya Barak Obama

Baru-baru ini, ada dua kejadian yang menyita perhatian dunia. Pertama, Krisis ekonomi yang melanda Negara AS. Krisis ini cukup mengagetkan masyarakat dunia. Betapa tidak, AS selama ini dikenal sebagai Negara adikuasa dari berbagai segmen kehidupan. Dari segi ekonomi, AS dikenal sebagai Negara yang memiliki kekuatan ekonomi. Namun badai krisis yang melanda, ternyata memutarbalikkan prediksi, bahwa kekuatan ekonomi ternyata tidak tahan dengan terpaan krisis, yang berimplikasi terhadap Negara lain.


Dari sisi ini, kita bisa mengambil pelajaran, bahwa di dunia ini, tidak ada kekuatan yang langgeng dan kekal. Sekuat apapun kekuatan tersebut, jika Allah menghendaki, pasti kekuatan itu akan hancur. Sebagaimana yang dialami Negara super power lainnya, yakni Uni Soviet, yang kejayaannya dulu kini tinggal kenangan, ini juga di alami oleh imperium-imperium sebelumnya yang pernah berjaya di muka bumi ini. Namun, kesemuanya itu hancur atas kehendak Allah Azza Wa jalla.


Kedua, terpilihnya Barack Husein Obama sebagai Presiden AS. Kejadian ini sungguh luar biasa, sebab Obama adalah Presiden pertama dari kulit hitam pertama di AS, yang selama ini dikenal sebagai kelompok minoritas di AS. Selain itu, kemenangan itu digapai dengan begitu mudah dalam waktu yang cukup singkat. Sekali lagi, memberi pelajaran sangat berharga bagi kita, bahwa tidak ada yang mustahil di dunia, jika Allah menghendaki. Allah memberi kekuasaan kepada siapa yang dikehendaki. Sebaliknya, Allah akan mencabut kekuasaan kepada siapa yang dikehendakinya pula.


Allah berfirman dalam surah Ali Imran : 26 yang artinya;
“Wahai Tuhan pemilik kekuasaan, Engkau memberikan kekuasaan kepada yang Engkau kehendaki dan mencabut kekuasaan kepada yang dikehendaki. Engkau memuliakan yang Engkau kehendaki dan menghinakan yang Engkau kehendaki. Di tanganmulah segala kebaikan, Sungguh, Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Inilah yang seharusnya menjadi pelajaran penting yang harus diambil dari berbagai peristiwa yang terjadi. Sebab, semuanya itu, terjadi atas kehendak dan sunnatullahNya. Meskipun begitu, hal itu tidak membawa kita menjadi orang yang atheis (tidak mengakui adanya Allah), yang tidak mengakui sebagai takdir Allah. Sebaliknya, kita harus meyakini betul, bahwa ini semua atas IradatNya.

Jika, keyakinan seperti ini kita miliki, maka akan menjadi modal utama untuk memperbaiki keadaan kita, baik secara pribadi maupun dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.


Fenomena Mundurnya Akhlak Kaum Muslimin

Meskipun saat ini, kita menyadari, bahwa kaum muslimin lemah dari berbagai sisi kehidupan, dari segi ekonomi, ilmu pengetahuan dan teknologi, serta politik. Bahkan dari segi akhlak kita juga sangat lemah, padahal dulu akhlak menjadi kekuatan kaum muslimin.

Dulu, kaum muslimin boleh lemah dari segi ekonomi, ilmu pengetahuan dan teknologi. Tapi, tidak pernah lemah dari segi akhlak. Pada waktu itu, kaum muslimin selalu tampil dengan akhlak terpuji. Ini berbanding terbalik dengan kondisi sekarang ini, kaum muslimin, hanya sedikit yang mempertahankan akhlak yang terpuji ini.

Terutama akhlak universal yang selama ini menjadi perhatian dunia, seperti; kejujuran, keadilan, yang dibutuhkan oleh semua manusia. Misalnya; saja Negara Jepang memiliki kejujuran yang hampir merata di semua masyarakatnya. Kerja keras, keadilan, kejujuran, serta amanah yang tinggi, menjadi akhlak sehari-hari mereka.

Padahal, semuanya itu milik kaum muslimin, sebab semuanya telah disebutkan, dan tidak ada yang luput dari ajaran Islam. Semuanya ada dalam ajaran Islam, ajaran yang hanif ini.

Namun terlepas dari semua itu, meskipun kita kaum muslimin mengalami kemunduran dan keterpurukan. Tapi kita harus yakin, bahwa keadaan itu pasti bisa berubah. Kita tidak boleh pesimis, bahkan kita harus optimis bahwa keadaan itu bisa berubah, kaum muslimin akan meraih kejayaannya kembali.

Mulai Lakukan Perubahan Dalam Diri Masing-Masing

Untuk mencapai itu, umat Islam harus melakukan sunnatullah (sebab akibat), yang salah satunya disebutkan dalam Al Qur’an, yakni perubahan dalam diri kita. Allah berfirman: ”Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum, sampai dia merubah dirinya sendiri” (Q.S. Ar-Ra’d:12).

Berangkat dari ayat ini, dengan dilandasi oleh keyakinan, maka umat Islam bisa maju. Jika mereka bisa merubah apa yang ada dalam dirinya. Kalau umat Islam bisa memperbaiki dirinya sendiri, memperbaiki aqidahnya, akhlaknya, memperdalam ilmu agamanya. Yakinlah umat Islam bisa bangkit dan berjaya sebagai khairah ummah. Ini sunnatullah dari Allah.

Tolonglah Agama Allah, Maka Allah Akan Menolongmu
Selain itu, Allah juga masih memberi motivasi kita untuk bangkit lewat firmanNya; ”Wahai orang beriman, jika kamu menolong agama Allah, maka Allah akan menolong kamu”. (Q.S. Muhammad:7), Ini berbanding terbalik dengan orang kafir. Sebab, tidak ada satupun dalam Al Qur’an dan Hadits yang menegaskan bahwa Allah akan menolong orang kafir. Bila orang kafir eksis, itu atas Iradat Allah serta melalui hukum sebab akibat. Tapi bagi kita kaum muslimin, jika ingin berubah, akan mengalami percepatan perubahan sebab Allah akan senantiasa menolong kita.


Karena itu, Semua perjalanan Nabi dan Rasul, dimulai dari hal-hal yang mustahil, dalam waktu singkat, berubah menjadi hal-hal nyata, serta dapat eksis. Mengapa ini terjadi, tentu saja ini atas pertolongan Allah. “Adalah kewajiban Kami menolong orang-orang beriman. Jika orang-orang beriman mau ditolong oleh Allah, maka mereka harus bersungguh-sungguh memperlihatkan, bahwa mereka ingin ditolong Allah”.


Ini faktor kedua yang tidak boleh dilupakan oleh kaum muslimin. Mungkin di antara kita ada yang khawatir, buntu tidak mendapatkan jalan. Kita tidak perlu khawatir, tapi kita harus bersungguh-sungguh memulai upaya, dengan kerja keras niscaya Allah akan menunjukkan jalan-jalan tersebut. Keyakinan akan datangnya pertolongan dari Allah perlu kita pupuk dalam hati.

Bila kita baca dalam Al Qur’an dan Hadits, begitu banyak peristiwa yang menunjukkan hal ini. Pertolongan itu tidak hanya ditujukan pada Nabi dan RasulNya, tapi juga para sahabat, wali-wali, serta orang-orang shaleh. Ini menunjukkan, jika menolong agama Allah, akan mendapatkan pertolongan, di dunia, serta mendapat kebahagiaan di akhirat.

Sebagai contoh, kita akan mengangkat dua kisah. Kisah pertama sebagaimana diceritakan syaikh Bin Baz; bahwa ada seseorang yang tersesat di dalam goa, tidak bisa keluar selama sepuluh hari. Nanti hari ke sepuluh orang tersebut ditemukan oleh anaknya. Setelah sampai di rumahnya, anak-anaknya bertanya; Bagaimana bisa hidup di dalam goa selama sepuluh hari? Padahal tidak ada makan dan tidak ada minum. Sang bapak lalu balik bertanya, apa yang kamu lakukan terhadap tetangga. Anak-anak itu lalu menjawab; kami memberi makan anak-anak yatim, kecuali kemarin karena kesibukan sehingga kami lupa. Bapaknya lalu berkata; saya telah menduga sebelumnya, karena selama sepuluh hari saya selalu mendapatkan susu disamping saya , tanpa saya tahu darimana asalnya, kecuali kemarin. Kisah di atas memberi pelajaran bahwa Allah akan menyelamatkan hambanya, ketika hamba suka menolong sesamanya.

Kisah kedua, seorang ibu yang ingin makan suatu makanan, ketika sudah siap dimasukkan dalam tubuhnya. Ternyata ada orang miskin yang lebih membutuhkan, maka si Ibu pun memberi makanan kepada orang miskin tersebut. Beberapa hari kemudian, anak ibu tersebut datang bercerita pada Ibunya. Bahwa beberapa hari yang lalu, dia mengalami peristiwa yang aneh, yang tidak tahu tafsirannya. Suatu hari Saya melewati hutan tiba-tiba seekor singa berhasil menangkap saya. Ketika berada ditangan singa dan akan diterkamnya. Tiba-tiba datang seorang yang memakai baju putih dan menyelamatkan saya dari genggaman singa. Lalu orang itu berkata; "satu suapan dengan satu suapan". Saya tidak tahu apa maksud orang tersebut.

Lalu Ibunya bertanya; kapan kejadiannya, ternyata waktunya sama dengan waktu Ibu memberi sesuap nasi pada orang miskin. Kedua kisah di atas, semakin memotivasi dan memberi keyakinan pada kita, bahwa sesungguhnya pertolongan Allah itu akan datang, jika seorang hamba menolong sesamanya dan agama Allah. Kalau saja menolong hamba Allah, Allah menolongnya. Apalagi menolong agama Allah, yang begitu banyak dalilnya dalam Al Qur’an dan Hadits.

Olehnya itu, marilah kita merubah diri kita dan menolong agama Allah. Agar din Islam kembali jaya dan umat Islam mendapat kejayaannya. Semoga Allah memberi kesempatan kepada kita semua dalam memperjuangkan agamanya, serta kita tetap istiqamah di jalanNya.

dari optimiskan.co.cc

Minggu, 21 Maret 2010

Persiapan menjadi Seorang Wirausahawan/ti

Persiapan menjadi Seorang Wirausahawan/ti

Orang terkadang melihat yang berwirausaha itu nggak ada apa-apanya, padahal yang berwirausaha banyak manfaat..yang terkandung didalamnya..apalagi dikampung seperti saya dari Rancaekek...tetangga melihat sebelah mata yang jadi pedagang daripada kerja ...mendingan di pabrik aja...ya itulah pemikiran orang-orang awam..padahal..yang berwirausaha..dapat berpenghasilan lebih dari orang yang kerja iya kan ?

Menjadi usahawan bagi sebagian orang dan ini tidak sedikit jumlahnya, adalah hal yang sangat menakutkan. Banyak yang berfikir bahwa menjadi pedagang atau wirausahawan sangat beresiko tinggi (kerugian, bangkrut dan sebagainya), sedangkan menjadi seorang pekerja sangat kecil resiko yang akan dihadapi.

Tetapi kalau kita berfikir jernih sesungguhnya menjadi pegawai juga beresiko tinggi, seperti: PHK, Pemotongan gaji, pensiun, minimnya gaji yang diperoleh, dsb.

Artinya dalam hal ini apapun pekerjaan yang kita pilih semuanya mengandung resiko yang tidak kecil. Menjadi wirausahawan jelas beresiko tinggi tetapi hal itu seimbang dengan yang akan diperoleh dari hasil berwirausaha yang mungkin jika berhasil dan sukses akan memperoleh pendapatan dan penghasilan yang sangat menggiurkan.

Untuk itu maka beberapa langkah mesti anda siapkan menjadi seorang wirausahawan:

Mempersiapkan mental:

menjadi usahawan mesti memiliki mental berwirausaha yang sangat kuat, jangan berfikir tentang berapa keuntungan yang akan diperoleh lebih dulu, tetapi berfikirlah segala resiko yang akan kita hadapi. Siap menang siap kalah, siap untung mesti juga harus siap rugi. Fair kan? Dalam berwirausaha juga memerlukan ketabahan yang sangat kuat, dalam beberapa kasus tidak semua wirausahawan mengalami kesuksesan, banyak pula yang mengalami kegagalan! sebagian menjadi orang berfikir bahwa menjadi wirausahawan mesti harus punya bakat! Itu benar tetapi tidak mutlak, banyak pula seorang pengusaha yang juga mempelajari dari nol bahkan banyak yang tidak memiliki darah dagang dalam keturunannya!

Kemauan yang kuat untuk berhasil:

menjadi seorang wirausahawan wajib memiliki kemauan yang kuat dan pantang menyerah untuk mencapai keberhasilan dan kesuksesan, tidak mudah menyerah pada nasib!

Selalu mengembangkan ide dan kreativitas:

Albert Einstein pernah menyatakan bahwa bukan ilmu yang mengakibatkan orang berhasil, tetapi ide dan imajinasi! Menjadi seorang wirausahawan dituntut memiliki ide yang cemerlang dalam membangun usahanya. Barang yang sepele bahkan dianggap orang tidak berarti jika dibalut dengan ide dan kreativitas akan menghasilkan produk yang baik. Seorang teman sebut saja Heri di Lamongan Jawa Timur setiap hari memperhatikan banyaknya enceng gondok yang ada di pinggir bantaran sungai dekat rumahnya.

Heri adalah seorang tukang becak yang tinggal di dekat sungai, dia kemudian berfikir mungkin enceng gondok yang tumbuh secara liar ini bisa dimanfaatkan. Ya dia memanfaatkan tanaman liar tersebut menjadi barang yang berguna seperti: tas wanita, dompet, sandal, dsb. Hasilnya ia bisa menjual produk tersebut sampai ke Jakarta! Dalam sebuah acara di televisi diceritakan bahwa Seonggok bantalan rel kereta api yang sudah tidak terpakai dan banyak dimakan rayap diolah menjadi meja kecil yang ternyata setelah dijual menjadi produk yang sangat diminati konsumen karena keunikannya;

Kemauan untuk Belajar:

Menjadi seorang wirausahawan bukan berarti jauh dari ilmu, memiliki ilmu itu wajib termasuk bagi seorang wirausahawan! Kemauan untuk terus mengembangkan ilmu khususnya berkait dengan dunia wirausaha yang digelutinya akan sangat membantu kelancaran berwirausaha. Dalam hal ini saya berpendapat bahwa seorang wirausahawan harus punya kemauan kuat untuk belajar kepada orang lain akan keberahsilan maupun kegagalan yang diterima dalam berwirausaha, sehingga hal ini akan dapat meminimalisasi kegagalan dalam mengembangkan usaha yang dijalani. Sebagai mahasiswa anda jangan hanya terpaku pada pelajaran yang anda peroleh di kelas, tetapi juga belajar dari teman, dosen, bahkan menjadi seorang aktivis mahasiswa adalah proses belajar yang sangat efektif;

Membangun komunikasi dan jaringan pertemanan:

Apabila anda adalah seorang yang memiliki banyak teman, maka hal itu akan menguntungkan anda, mengapa? Untuk memasarkan produk yang anda jual baik jasa maupun barang anda membutuhkan relasi usaha. Teman anda dapat menjadi rekan usaha yang potensial dalam membangun jaringan pemasaran usaha anda kelak.Bertemanlah dengan banyak orang, jalinlah komunikasi yang efektif dengan siapapun. Apalagi jika anda memiliki teman yang berasal dari luar daerah, maka anda akan punya kesempatan untuk melebarkan sayap usaha anda ke daerah-daerah kelak. Dengan memiliki banyak teman setidaknya anda sudah punya sedikit sayap yang sewaktu-waktu siap untuk dikepakkan untuk melambungkan usaha anda;

Modal Usaha:

Modal yang juga penting dalam membuka sebuah usaha adalah dana. Saran saya jika anda merupakan pendatang baru dalam dunia wirausaha, maka janganlah mengeluarkan dana dalam jumlah besar tetapi mulailah dari hal yang kecil dan anda kuasai. Ketika masih duduk di bangku kuliah dulu (awal tahun 90an) saya mencoba memelihara ayam kampung, saya membeli 2 ekor ayam betina dan 1 ekor ayam jago sebagai pejantan. Hasilnya? Dalam waktu sekitar 1 tahun saya berhasil memperoleh 60 ekor ayam kampung! Hasil yang sangat lumayan. Sepele bukan?

Sabtu, 05 Januari 2008

proses pembelajaran

BAB I

PROSES PEMBELAJARAN

A. Pengertian

Belajar merupakan usaha individu untuk memperoleh perubahan tingkah laku secara keseluruhan. Perubahan yang dimaksud adalah perubahan pada aspek pengetahuan, sikap, dan keterampilan.

B. Proses belajar mengajar (PBM) dan proses pembelajaran

Proses belajar mengajar (PBM) dapat terjadi bila guru dan murid, sedangkan proses pembelajaran dapat terjadi pada siswa walaupun tanpa guru. Pola pendidikan sekolah belakangan ini lebih mengarah pada proses pembelajaran, dimana diharapkan guru tidak lagi menjejali pengetahuan sebanyak-banyaknya kepada siswa, akan tetapi merangsang.

  1. Komponen pembelajaran

a. Tujuan pembelajaran

b. Materi pembelajaran

c. Strategi pembelajaran

d. Evaluasi pembelajaran

  1. Keterampilan mengajar

Pelaksanaan pengajaran dapat dilaksanakan dengan baik oleh guru bila guru memiliki keterampilan mengajar. Keterampilan mengajar yang diperlukan adalah sebagai berikut :

a. Keterampilan membuka pelajaran

b. Keterampilan memberi motivasi

c. Keterampilan menerangkan/menyampaikan materi

d. Keterampilan memilih metode pembelajaran

e. Keterampilan verbal dan non verbal

f. Keterampilan melakukan interaksi

g. Keterampilan bertanya

h. Keterampilan melakukan penjajakan

i. Keterampilan melakukan evaluasi

j. Keterampilan menutup pelajaran

C. Faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam proses pembelajaran

1. Kondisi Internal

Kondisi internal (yang berasal dari dalam diri) siswa dapat dikelompokkan pada dua aspek, yaitu aspek fisik dan aspek psikis. Aspek fisik adalah postur tubuh dan kemampuan alat indera. Aspek psikis terdiri dari : Inteligensi (kemampuan untuk mencapai prestasi), emosional, imajinasi, motivasi belajar (intrinsik atau ekstrinsik), Minat, perasaan, rasa aman dan tentram.

2. Kondisi Eksternal

Yaitu keadaan diluar diri anak

· Ruang belajar

· Penerangan, cahaya penerangan cukup, arah cahaya dari kiri ke kanan

· Sarana belajar, alat pelajaran, buku, media yang berhubungan dengan PBM

· Interaksi, yakni interaksi antara anak dengan teman-temannya, dengan guru dan dengan orang-orang yang terlibat dalam proses pembelajaran di sekolah.

3. Macam-macam pendekatan dalam belajar

1. Belajar responden, terjadinya perubahan perilaku diakibatkan perpaduan stimulus tak terkondisi dengan stimulus terkondisi

2. Belajar operan, belajar sebagai akibat dari reinforcement

3. Belajar observasional, belajar dengan mengamati objek yang dipelajari

4. Belajar kontiguitas, pemasangan kejadian-kejadian sederhana dalam bentuk apa saja dapat menghasilkan belajar

5. Belajar kognitif, belajar melaluik pendekatan proses dengan mempergunakan ‘reasoning’ atau berpikir

4. Pendekatan dalam pembelajaran

1. Pendekatan individual

2. Pendekatan kelompok

3. Pendekatan bervariasi

4. Pendekatan edukatif

5. Pendekatan pengalaman

6. Pendekatan pembiasaan

7. Pendekatan emosional

8. Pendekatan rasional

9. Pendekatan fungsional

10. Pendekatan keagamaan

11. Pendekatan kebermaknaan

D. Media Pembelajaran

A. Media pembelajaran

Segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima pesan sehingga dapat merangsang fikiran, perhatian, minat siswa, agar proses pembelajaran dapat terjadi

B. Beberapa prinsip menggunakan media pembelajaran

1. Media pembelajaran harus sesuai dengan tujuan dan materi pembelajaran

2. Alat peraga harus sesuai dengan tingkat kematangan dan kemampuan anak didik

3. Penyajian media harus sesuai dengan materi, metode, waktu dan sarana yang ada.

4. Memperlihatkan media sesuai dengan waktu, situasi dan tempat


C. Langkah-langkah menggunakan media

1. Merumuskan tujuan dengan media

2. Memilih dan menetapkan media

3. Memotivasi siswa agar dapat menlai, menganalisis, menghayati pelajaran dengan alat peraga

4. penyajian pelajaran dengan media

5. kegiatan pembelajaran dengan media

6. Evaluasi pelajaran dan keperagaan

BAB II

METODE PEMBELAJARAN

Metode pembelajaran merupakan salah satu aspek yang sangat penting dalam kegiatan pembelajaran. Kemampuan memilih dan menggunakan metode yang tepat akan sangat menentukan tercapai atau tidaknya tujuan pembelajaran yang sudah ditetapkan.

A. Pertimbangan memilih metode

1. Tujuan pembelajaran

Bila tujuan pembelajaran lebih banyak aspek kognitif maka metode yang akan digunakan akan berbeda kalau tujuan pembelajaran yang akan dicapai lebih banyak pada aspek psikomotor

2. Materi Pelajaran

Materi pembelajaran yang banyak atau sedikit dan materi yang sulit atau mudah menentukan juga metode mana yang paling tepat digunakan

3. Kondisi siswa

Siswa yang rata-rata IQ nya tinggi berbeda kalau rata-rata IQ di kelas tersebut rendah. Siswa yang rata-rata minatnya tinggi berbeda kalau rata-rata minat siswa di kelas rendah.

4. Media pembelajaran yang tersedia

Metode yang tepat dan kemampuan guru yang baik menjadi tidak berarti kalau metode yang akan digunakan mengharuskan menggunakan media sementara medianya tidak ada.

5. Kemampuan guru

Guru harus menyadari kemampuannya dalam menggunakan metode pembelajaran, termasuk kondisi guru saat akan mengajar

6. Waktu belajar

Kondisi belajar siswa pada pagi hari masih prima baik fisik maupun psikisnya, oleh karena itu menggunakan metode apa saja bisa. Pada saat siang hari kondisi fisik dan psikis siswa sudah berkurang, saat seperti ini tidak semua metode bisa diterapkan.

7. Tempat pembelajaran

Tempat belajar juga menentukan metode apa yang harus digunakan oleh guru.

B. Macam-macam metode mengajar

1. Metode ceramah

Metode ceramah yaitu penyampaian materi pelajaran dengan menggunakan bahasa lisan. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menggunakan metode ceramah :

- Yang berhubungan dengan suara

- Yang berhubungan dengan pemilihan kata

2. Metode tanya jawab

Metode tanya jawab yaitu dialog antara guru dengan siswa, guru bertanya siswa menjawab atau sebaliknya.

3. Metode Diskusi

4. Metode tugas belajar

5. Metode kerja kelompok

6. Metode demonstrasi

7. Metode sosiodrama (role playing)

8. Metode Problem solving

9. Metode sistem regu (team teaching)

10. Metode latihan (drill)

11. Metode karya wisata

12. Metode manusia sumber (resourch person)

13. Metode survei masyarakat

14. Metode simulasi

15. dan lain-lain

BAB III

ACTIVE LEARNING

A. Latar Belakang

Pembelajaran hendaknya memperhatikan kondisi individu anak karena mereka!ah yang akan belajar. Anak didik merupakan individu yang berbeda satu sama lain, memiliki keunikan masing-masing yang Jdak sama dengan orang lain. Oleh karena itu pembelajaran hendaknya memperhatikan perbedaan-perbedaan individual anak tersebut, sehingga pembelajarari benar-benar dapat merobah kondisi anak dan yang tidak tahu menjadi tahu, dan yang tidak paham menjadi paham serta dan yang berperilaku kurang balk menjadi balk. Kondisi riil anak seperti ini, selarna mi kurang mendapat perhatian di kalangan pendidik. Hal mi terlihat dan perhatian sebagian guru/pendidik yang cenderurig memperhatikan kelas secara keseluruhan, tidak perorangan atau kelompok anak, sehingga perbedaan individual kurang mendapat perhatian. Gejala yang lain terlihat pada kenyataan banyaknya guru yang menggunakan metode pengajaran yang cenderung sama setiap kali pertemuan di kelas berlangsung.

Menyadari kenyataan seperti mi para ahli berupaya untuk mencari dan merumuskan strategi yang dapat merangkul semua perbedaan yang dimiliki oleh anak didik. Strategi pembelajaran yang ditawarkan adalah strategi betajar aktif (active learning strategy).

B. Strategi pembelajaran aktif (active learning strategy)

1. Pengertian

Pembelajaran aktif (active learning) dimaksudkan untuk mengoptimalkan penggunaan semua potensi yang dimiliki oleh anak didik, sehingga semua anak didik dapat niencapai hasH belajar yang memuaskan sesual dengan karakteristik pribadi yang mereka miliki. Di samping itu pembelajaran aktif (active learning) juga dimaksudkan untuk menjaga perhatian siswa/anak didik agar tetap tertuju pada proses pembelajaran.

Beberapa penelitian membuktikan bahwa perhatian anak didik berkurang bersamaan dengan berlaiunya waktu. Penelitian Pallio (1984) menunjukkan bahwa siswa dalam ruang kelas hanya memperhatikan pelajaran sekitar 40% dan waktu pembelajaran yang tersedia. Sementara penelitian MeKeachie (1986) menyebutkan bahwa daTam sepuluh menit pentama perthatian siswa dapat mencapai 70%, dan berkurang sampai menjadi 20% pada waktu 20 menit terakhir.

Thorndike (Bimo Wagito, 1997) mengemukakan 3 hukum belajar, yaitu :

1. law of readiness, yaitu kesiapan seseorang untuk berbuat dapat memperlancar hubungan

antara stimulus dan respons,

2. law of exercise, yaitu dengan adanya ulangan-ulangan yang selalu dikerjakan maka hubungan

antara stimulus dan respons akan rnenjadi lancar

3. law of effect, yaitu hubungan antara stimulus dan respons akan menjadi lebih baik jika dapat menimbulkan hal-hal yang menyenangkan, dan hal ini cenderung akan selalu diulang.